Mentari pagi masih bersembunyi dibalik awan, bumi pun masih berselimbut
kabut nan dingin di pagi ini. Tapi gelap dan dinginnya pagi, seolah ga
berpengaruh bagi masyarakat di kampungku. Mereka sudah terbiasa dengan cuaca
seperti ini, mereka sudah bersiap-siap untuk melakukan berbagai macam aktifitas
dan rutinitas sehari-hari. ada yang bertani di sawah, ngambil kayu bakar di
hutan yang memang ga begitu jauh dari kampungku, bahkan sebagian dari mereka
sudah ada yang berangkat dari ba’da subuh.
Tapi tidak halnya dengan diriku, pagi ini terasa dingin banget. Aku masih
terbujur kaku diatas kasur usang yang ga empuk, aku males banget tuk buka
mataku dan keluar dari pelukan selimbutku yang ga tebel-tebel banget ini. Karena
hari ini adalah awal dari masa liburan sekolahku, jadi aku fakir ini adalah
saatnya aku menikmati kebebasanku setelah selama 3 tahun aku selalu disibukkan
dengan aktifitas sekolah setiap hai selama 6 hari dalam seminggu.
Aku baru lulus dan baru menerima ijazah kemarin, Alhamdulillaah aku lulus
dengan hasil yang lumayan sempurna. Aku mendapatkan peringkat pertama dan
mendapatkan predikat Nilai UN (Ujian Nasional) tertinggi tingkat SMP di
kota-ku. Aku berencana untuk meneruskan pendidikanku ke SMA di Kota. Tapi orang
tuaku berkehendak lain, mereka ingin agar aku masuk ke Pondok Pesantren. Alasannya
sih biasa, mereka takut aku terjerumus kedalam pergaulan yang akan merusak masa
depan kehidupanku kelak.
“Zi.. bangun Nak, tidak baik lho tidur bermalas-malasan dipagi hari.” Kudengar
suara ibuku membangunkanku. “iya Bu, sbentar lagi Ezi bangun, nih masih ngantuk
banget bu. Lagian, dingin banget hari ini.” Sahutku pada ibu. Tapi ibu tidak
membiarkanku untuk melanjutkan petualanganku di alam mimpi, kudengar langkah
kaki beliau masuk ke kamarku. “bangun, Nak… mandi, sarapan. Bukankah hari ini
kamu mau mendaftar ke Pondok Pesantren Khozienatul ‘Uluum..??. kata ibu lagi
tepat berdiri disampingku. “nanti saja Bu, ini kan baru jam 6. masih ada waktu untuk
sekedar ngalenyap bentar”. Jawabku pada ibu setengah malas,
karena memang aku ga bernafsu untuk mondok,
aku inginnya sekolah ke Kota. Bukan ibuku jika
beliau mengikuti inginku, apalagi kalau membiarkanku tidur sampe siang.
“Nak, kamu tahu? Tidur di pagi hari setelah subuh itu akan membuatmu
fakir harta lho Nak…!! Kamu mau hidup kamu miskin kelak..?? Kata ibuku, sambil
menarik selimbutku. Aku pun bangun walopun masih terasa malas. Tak lama
berselang, datang pamanku yang akan mengantarku mendaftar ke pondok Pesantren
di Kota.
(Bersambung, ntar diterusin lagi ya... mo masak air duu, bikin kopi biar semangat nulisnya.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Cinta